Selamat Datang di Blog Sederhana ini

Selamat Datang di Blog Sederhana Ini

Sabtu, 19 April 2014

KELUARGAKU.. SAUDARAKU.. PERISAI DIRIKU..




aku tahu aku tak pernah berjuang sendiri, aku tahu tahu aku tak berjalan sendiri di jalan yang sepi ini, aku tahu aku ada yang melindungiku, aku tahu ada yang mengarahkanku dari belakang, aku tahu ada yang menemani setiap langkahku. ya... entah dengan bentuk apapun itu. Allah jelas menjadi penolong setiaku dan saksi atas segala apa yang aku lakukn selama ini.

jika saat ini aku berpikir bahwa aku melakukan semua ini sendiri.. itu jelas salah! apalagi anda yang  berfikir demikian. pada dasarnya anda belum mengerti aku dan siapa orang yang ada di belakangku. dibalik orang-orang yang kuat ada orang-orang hebat. mereka yang senantiasa memberikan dukungan. mereka yang senantiasa menjadi tempat berkeluh kesah, pemberi solusi untuk setiap masalah. merekalah saudara.. keluarga.. perisai diri.. dan suatu penyesalan ketika aku baru merasakan semua ini setelah aku berada di dalam keluarga perisai diri selama 3 tahun lebih sejak akhir maret 2011 lalu.

keluarga ini yang pernah aku sia-siakan selama bertahun-tahun itu, keluarga ini yang kemarin sempat membuatku merasa kehilangan, keluarga ini yang kemarin membuatku merasa sepi, sendiri dan jenuh. kini kembali dengan senyum bangga telah membuat aku merasa sangat membutuhkannya. entahlah.. aku tak peduli, yang aku rasakan hanya kesenangan bisa kembali merasakan hangatnya persaudaraan ini.

ini yang membuatku tersadar akan pentingnya sebuah keluarga......
ketika menjadi seorang pengurus, tingkat perhatian bertambah itu merupakan suatu kewajaran dan itu pula yang aku rasakan. latihan sepi, ke sekretariat sepi, malah ada keluarga lain yang membuatku iri atas kedekatan mereka, mau minta pendapat sepi, sampai mengambil keputusanpun masih sepi-sepi saja. hingga sampai lah aku pada titik jenuh tersebut, meluapkan segala keluh kesahku dalam sebuah tulisan dengan memanggil-manggil mereka satu persatu, meluapkan segala kelelahanku yang terbendung selama ini karena tak ada tempat utuk mencurahkan. hingga akhirnya satu kalimat yang membuatku tersadar seketika "apa yang kamu alami saat ini bukanlah peninggalan dari pendahulumu, tapi masa depan adik-adikmu yang kau pinjam dan harus kau kembalikan dengan keadaan yang baik seperti semula". yah.. seketika kata-kata tersebut menyulut api semangat kembali untuk menghidupkan keluarga yang sempat sepi dan hampir mati ini. meski kata-kata ini bukan dari keluargaku sendiri, ia mampu memberikan semangat tersendiri untuk kembali bangkit dari keterpurukan, terjatuh satu dua kali bahkan seribu kali pun bukan suatu masalah ketika telah ada tekad kuat dalam hati dan jiwa.

baru kemudian kalimat kedua yang membuatku menangis tak berdaya, "jangan bersedih, kamu tida berjuang sendirian. perisai diri bukan hanya ada di plasa dr angka, dia ada di lapangan rektorat UB, dia ada di undip, dia ada di unesa.....dst yang menanti untuk kau sapa, kami adalah saudaramu, kami adalah keluargamu yang seharusnya mejadi tempat pertamamu bercerita tentang keluarga kita, bukan kepada orang lain" bahwa memang selama ini usahaku kurang  maksimal dan tak pantas aku mengeluhkan, bahwa aku tidak berjuang sendirian bahkan menyia-nyiakan keluarga yang ada di sekelilingku, mengabaikan ssaudara-saudara yang sebenarnya menanti untuk aku cari, mengacuhkan keluarga yang sebenarnya menanti untuk ku panggil. ohh Tuhan.. begitu hinanya diri ini. hingga terselip niat untuk menyambangi mereka satu persatu untuk meminta maaf telah mengotori keluarga ini dengan umpatan ku yang keliru.

dan sangat sadar bahwa aku sangat membutuhkan mereka ketika aku menjadi seoang ketua pelaksana dalam pertandingan pencak silat se-jatim. di mana bukan hanya ada perisai diri di sana. di mana banyak keluarga di sana dengan macam-macam karakter. aku lebih tak mampu lagi ketika harus berjalan sendiri di sini. pertama, ketika dana yang dibutuhkan bukan merupakan jumlah yang kecil. kepada siapa aku meminta tolong kalau bukan pulang ke rumah sendiri, menghubungi saudara-saudaraku untuk meminta bantuan, dan subhanallah tanggapan mereka sangat mengesankan, keloyalan pembinaku yang baru dua kali itu aku temui, kemurahan hati mbak-mbak dan mas-mas yang tak ingin adik-adiknya kesusahan, terima kasih :)
hanya kata itu yang mampu aku ucapkan, semoga dibalas dengan berlipat ganda oleh yang Maha Kuasa

kedua ketika penentuan wasit juri, dan ini yang sangat meresahkan dan mengganggu pikiran hingga air mata tak sanggup lagi ditahan. aku berada di antara orang-orang yang bukan saudaraku, mempengaruhiku, mengarahkanku untuk ini untuk itu, menjadikanku boneka dan memakiku ketika aku tidak sesuai dengan keinginannya. aku tak sempat berpikir jernih bahkan untuk menentukan keputusan sekalipun. hingga pada peristiwa di mana aku memilih salah satu jalan yang ditemani oleh saudaraku dan aku menemukan pilihan. aku bisa mengambil keputusan dengan pilihanku sendiri dan berbagai pertimbangan dari saudaraku. bukan menghasut, bukan mempengaruhi atau memakiku, tapi memberi saran, mengingatkan bahwa selama ini aku terlalu lembek. mengabaikan keluarga dan sibuk dengan keluarga orang. bahkan rumah sendiripun harus berbagi dengan keluarga lain.panta jika saudaraku malas berkunjung karena setiap mereka ke rumah yang ditemui bukanlah keluarga mereka.

akhirnya mau dibawa kemana nasib keluarga ini. keluarga yang katanya didirikan dan disahkan oleh golongan biru itu,ada di tangan kita dan menurut presepsi kita. yakinlah dan tetap semangat lakukan yang terbaik. untuk keluargaku, untuk saudaraku, untuk perisai diriku...............^_^