Pertanyaan hidup yang paling penting dan mendesak adalah "apa yang telah engkau lakukan untuk agamamu, saudaramu dan negaramu?"
Selamat Datang di Blog Sederhana ini
Rabu, 24 September 2014
aku dan organisasiku
Berorganisasi
itu menyenangkan (sebenarnya). Kita dapat mengenal berbagai macam karakter
orang, terutama orang yang paling dekat dengan kita di organisasi tersebut
misalnya partner, ketua dengan wakil, sekretaris dengan bendahara, sekretaris
dengan ketua, dan seterusnya. Kita juga dapat mengekspresikan diri sesuai
dengan passion kita masing-masing. Suka di bidang sosial, kita bisa
memanfaatkan energi lebih kita untuk kegiatan positif yang bermanfaat untuk
orang banyak. Suka bidang minat bakat, ya silakan mengekspresikan diri di minat
bakat, menyalurkan hoby-hoby yang positif dengan target-target prestasi
tertentu misalnya. Wawasan kita juga ter-upgrade
kalau kita berada di sebuah
organisasi, minimal kita tahu informasi tentang internal bidang organisasi
kita. Info-info tertentu juga tak ketinggalan. Tapi yang paling penting adalah
di organisasi kita belajar memaknai masalah, mencari solusi yang terbaik untuk
setiap persoalan yang melanda. Solusi yang telah sangat diperhitungkan matang-matang
resikonya. Me-manage benar waktu kita untuk hal-hal positif. Masalah-masalah
yang sering muncul di sebuah organisasi adalah Masalah internal, masalah kader,
masalah pendanaan, masalah eksternal dan masih banyak masalah-masalah yang lain
lagi tentunya. Semuanya menjadi pensil pewarna dalam kertas putih lembaran history
kita J
Selasa, 23 September 2014
Hati, si kecil yang sangat sensitif
Tahukah bahwa
suasana hati sangat berpengaruh pada segala aktivitas yang kita lakukan? Atau mungkin
kalian sudah merasakannya? sering kah??
Woo woo.. jangan khawatir, anda tidak sendirian. Banyak
orang guys yang sudah merasakannya (berdasarkan pengalaman dan cerita
teman termasuk saya). Saat hati merasa damai, tenang, senang dan seterusnya
ketika misalnya dapat hadiah, bertemu orang yang diidolakan/disukai/dirindukan,
dapat nilai bagus, keinginan terwujud, serasa semua kegiatan adalah
menyenangkan. Kita menjalankannya pun dengan sangat ikhlas dan tidak jarang
pekerjaan atau kegiatan kita menuai hasil yang excellent, tidak hanya
seperti yang kita bayangkan. Bagus banget dah pokoknya!! ^_^
Sekarang coba anda
bandingkan dengan ketika suasana hati sedang berduka, sebel, marah. Duuh
rasanya pingin makan semua orang yang menyapa kita, pingin
tendang tuh dinding ruang sampek jebol. Semua yang ada di
sekeliling kita rasanya menyiksa banget. Udah kerjaan nggak
ada yang beres, semua berantakan dan efeknya kemana-mana nggak hanya di
pekerjaan itu saja. Pinginnya kabur dari keadaan seperti itu. Nggak
ada bagus-bagusnya soalnya tampang kita kalau lagi nggak enak hati.
Nahh.. kalau
menurutku sih, menurut seseorang yang biasa-biasa saja ini, yang bukan konsultan
kesehatan, bukan bidan bukan perawat bukan suster apalagi dokter, kalau kita
lagi seneng banget atau lagi sebel banget, itu kita sedang dalam energi
yang berlebih. Kalau lagi seneng mungkin energi yang keluar adalah energi
positif. Jadi mau ngapain aja, mau ngerjain apa aja
kebanyakan pasti beres. Sedangkan sebaliknya, kalau kita lagi sebel, marah atau
sedih, kita juga punya energi yang berlebih tapi cenderung ke arah energi negatif.
Ya bawaanya kayak pingin nendang-nendang dan makan orang tadi.
Nggak
masalah kok, mau ngapain aja boleh. Asal jangan menembus
hak-hak orang. Misalnya kalau sebel pinginnya cemberut aja, terus
kalau disapa nggak mau senyum apalagi menjawab atau membalas menyapa. Padahal
kan mendapatkan senyum dan perlakuan yang baik dari kita adalah hak orang. Atau
kalau sedang badmood (istilah gaulnya) pinginnya semua orang menuruti
apa yang kita mau. Harus sesuai dengan keinginan kita pokoknya! Woo woo.. anda
melanggar undang-undang negara itu, Hak Asasi Manusia!! Atau kalau lagi sebel, suka
nggak tertib lalu lintas ya. Nggak pakek helm, nrabas
lampu merah, nggak patuh rambu-rambu di sepanjang jalan? (ya silakan
dicoba aja sih) :D
Mending tiduran aja
di kamar, nggak ganggu orang. Atau makan bakso aja yang banyak, kan
lumayan tuh si tukang baksonya laris. Biar didoain badmood terus entar
luh…!! Hahaha
Saran aja sih,
kalau punya energi berlebih gitu buang aja ke kegiatan positif lainnya
yang tidak bersinggungan dengan orang lain. Jadi tidak perlu cemas orang lain
kena imbas dari kesebalan kita. Yaa misalnya bersih-bersih rumah, bakar sampah
dll. Jadi teringat cerita salah satu senior yang kalau lagi marah atau sebel
sukanya nyuci baju. Lumayan kan nggak perlu nglaundry. Bahkan
katanya tidak terasa melelahkan. Hooo suangaar!! Tiba-tiba sudah selesai
gitu aja. “kalau sebel lagi bisa buka laundry dadakan nih, mas!”
Next,
kesimpulannya saling jaga perasaan aja lah sama orang-orang di
sekeliling kita. Jangan suka membuat orang tersinggung. Dijaga kata-katanya
terutama, “mulutmu, harimaumu”. Setidaknya kita berusaha berbuat baik kepada
orang-orang di sekitar kita. Selebihnya wallahu a’lam J
Minggu, 21 September 2014
Dunia Ini Terlalu Adil : Sindiran Rakyat Kecil
[Jeritan Hati Petani]
- di sebuah ruang di lubuk hati - Dunia ini adil, bahkan terlalu adil. Hingga tuan dan nyonya bermobil semakin jaya dan kami semakin terabaikan. Gedung mencakar langit dan melebar, sedang lahan kami semakin menyempit kemudian hilang. Berubah menjadi tumpukan batu bata yang tersusun tinggi berpetak2 dengan barang mewah yang diperjualbelikan di dalamnya, atau warung besar dengan masakan yang menurut kami.. ah tak berasa, seperti tak berbumbu, atau ruangan-ruangan yang entah didalamnya terdapat apa. Yang jelas, deretan mobil mewah ada di atas tanah bekas sawah kami. Mereka seolah tak segan lagi menyingkirkan kami, kelompok yang dianggap tertinggal. Yang menyediakan sesuap nasi untuk semua orang di negeri ini. ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....
Bagaimana tidak kami melakukan semua itu, menjual satu-satunya tempat penyambung hidup kami sekeluarga. Bibit unggul tak lagi murah, pupuk dan obat-obat penyehat tanaman dari serangan hama tak mau kalah dengan si bibit unggul. semuanya mahal. Sedang perolehan kami tak begitu berharga. Tak sebanding dengan pengeluaran. Tak seberapa. Belum lagi kalau gagal panen melanda. hhhh.... Hutang tak lagi terelakan untuk menggarap lahan periode berikutnya. Dan entah sudah berapa periode kami tetap bertahan dengan semua ini. Dengan hutang yang semakin tahun bukan tambah berkurang tapi semakin beranak... ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....
Keadaan ini seperti buah simakalama, yang bahkan tak sedikit dari kami harus mengambil keputusan paling menyakitkan sepanjang umur kami, menjual sawah turun temurun dari sesepuh kami untuk menutupi hutang dan bekal hidup seterusnya. Pergi ke kota berharap kehidupan yang lebih baik di sana. dan.. tak sedikit dari mereka pula menganggap kami sampah masyarakat... ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....
Bagaimanapun, kehidupan kami di era orde baru memang tak ada bandingannya. Dan kalimat pak presiden "piye, sek enak jamanku to?" menurut kami benar, tak ada salahnya. Karena saat itu adalah masa kejayaan kami. Dimana kami merasa sangat diperhatikan dan diprioritaskan. Kebutuhan persawahan kami terjamin dan kami makmur. Biarlah orang di sana berkata apa. Sebagai orang awam yang tidak begitu memperhatikan masalah pribadi pemimpin dan saksi kejayaan kami, kami merasa sangat berharga di era itu. toh, sekarang mereka yang berteriak menuntut pemunduran sekarang tak berteriak untuk jeritan kami. hingga kami semakin terabaikan. ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....
Jika dulu, orang kaya terhitung dari berapa luas sawah yang dimiliki, rupanya sekarang sudah bergeser ke seberapa banyak gedung yang dimiliki... sesuap nasi dari jerih payah kamipun tak dihargai... sampai negarapun harus membeli sesuap nasi dari luar negeri. ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....
Jumat, 19 September 2014
14 agustus menghanyut
Hina!
Ya.. itu yang
bisa dirasakan saat ini, dan kupikir itu memang pantas untukku atas semua yang
telah aku lakukan sebelumnya. Kini sudah tak ada yang perlu dirahasikan. Semua
sudah terjadi dan semua sudah tau. Terus mau apa lagi ? mau memutar kembali
waktu ? mau mengembalikan keadaan seindah seperti yang aku bayangkan saat ini ?
hah.. mimpi, itu hanya angan yang tak kan pernah tersampaikan. Aku hanyalah
seorang shofi.. seorang manusia pendosa yang sering sekali mengulangi
kesalahannya. Seorang manusia yang lengah dan lalai di masa lalunya. Seorang
manusia yang berusaha menjadi sholihah meski berulang kali terjatuh di lubang
yang sama. Di tingkatan uji yang tak pernah meningkat dari sebelumnya. Hhh..
hina! Mungkin dengan ini Allah menyadarkanku. Dengan membuatku malu. malu pada
Allah.. malu pada diriku sendiri.. malu pada orang di sekelilingku yang
menganggapku lebih baik dari pada kenyataannya..
Inilah aku,
yang tak bisa menyembunyikan perasaannya. Inilah aku, yang tak bisa memendam kasih sayangku sendiri. Inilah
aku, yang juga ingin merasa dikasihi. Inilah aku yang tak bisa menepati janji-janji yang
pernah kami buat bersama, ini lah aku yang memberikan harapan dan diberi
harapan. inilah aku, dengan segala kekuranganku.
Dan inilah
cinta yang tumbuh bukan pada waktunya. Cinta yang tumbuh dengan cepatnya diantara
pertemuan singkat kami. Cinta yang tak pernah terbayang sebelumnya datang dan
pergi begitu saja. Atau memang ini bukan cinta? Hanya bualan nafsu yang terbungkus
rapi dengan kata-kata manis yang pernah terangkai darinya untukku dan dariku
untuknya..
Entahlah..
14 agustus,
kukira hari itu hari paling menyebalkan dalam hidupku. Hari dimana hubungan
yang tak semestinya ini terjalin. Yang menyatukan aku dan dia dan semua yang
pernah terjadi antara kami. Mengorbankan perasaan yang pernah terpupuk hanya
dengan… ahh aku tak sanggup melanjutkannya. Ini karena aku merasa bodoh, aku
merasa tak ada nilainya di matanya. Sehingga dengan mudah dia datang, pergi,
kemudian kembali dengan sesukanya. Mengabaikan perasaan bulsyit yang berulang
kali aku sampaikan. Semua hanya demi dia bahagia. Bahagia sesaat. Setelah itu
dia akan berkata “ah lupakan, semua sudah terjadi”.
14 agustus,
kupikir hari itu juga yang sangat dia jaga kerahasiaannya. Sampai melarangku
untuk mengatakannya pada siapapun. Benar-benar menyembunyikannya. Itupun
sebelum kami ada di posisi seperti ini. posisi yang seharusnya menjadi tauladan
bukan cacian. Tapi sudah kubilang, inilah aku, dengan segala kekuranganku. Aku
yang lebih tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku dengan apapun. Aku bahagia
waktu itu bisa bersamanya. Jujur… entah dari sisi apa aku begitu menyukainya
dulu.. dulu.. saat aku belum bertemu orang hebat lainnya. yaaaah meski
terkadang saat inipun dia masih istimewa J meski dia
tak pernah menyadarinya. Ku harap seperti ini saja, dia tak perlu tahu..
Kini.. semua
orang sudah tahu. Aku tak pernah
berfikir sejauh itu. Tak pernah terfikir apa yang dirahasiakan kini terbongkar
melalui lantunan kalimat-kalimat tak berharga, apa yang ditutup-tutupi kini
terbuka melalui media yang tak diragukan lagi eksistensinya, apa yang
disembunyikan kini terlihat sudah…. Dan dia masih dengan kalimatnya sendiri “ah lupakan, semua sudah terjadi”. Kemudian dia pergi……….membiarkan
bayang-bayang gelap itu kembali menyeruak di ruang memoriku, membiarkanku sendiri
dalam rindu palsu yang tak pernah kuharapkan….. (tak pernah kah dia berfikir
tentang bagaimana posisiku)
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)
.jpg)