Selamat Datang di Blog Sederhana ini

Selamat Datang di Blog Sederhana Ini

Rabu, 24 September 2014

aku dan organisasiku

            Berorganisasi itu menyenangkan (sebenarnya). Kita dapat mengenal berbagai macam karakter orang, terutama orang yang paling dekat dengan kita di organisasi tersebut misalnya partner, ketua dengan wakil, sekretaris dengan bendahara, sekretaris dengan ketua, dan seterusnya. Kita juga dapat mengekspresikan diri sesuai dengan passion kita masing-masing. Suka di bidang sosial, kita bisa memanfaatkan energi lebih kita untuk kegiatan positif yang bermanfaat untuk orang banyak. Suka bidang minat bakat, ya silakan mengekspresikan diri di minat bakat, menyalurkan hoby-hoby yang positif dengan target-target prestasi tertentu misalnya.  Wawasan kita juga ter-upgrade  kalau kita berada di sebuah organisasi, minimal kita tahu informasi tentang internal bidang organisasi kita. Info-info tertentu juga tak ketinggalan. Tapi yang paling penting adalah di organisasi kita belajar memaknai masalah, mencari solusi yang terbaik untuk setiap persoalan yang melanda. Solusi yang telah sangat diperhitungkan matang-matang resikonya. Me-manage benar waktu kita untuk hal-hal positif. Masalah-masalah yang sering muncul di sebuah organisasi adalah Masalah internal, masalah kader, masalah pendanaan, masalah eksternal dan masih banyak masalah-masalah yang lain lagi tentunya. Semuanya menjadi pensil pewarna dalam kertas putih lembaran history kita J [Hanya ingin berbagi pengalaman saja]
            Sejak SMA kelas 2, saya memulai karier di organisasi. Awalnya tak pernah terpikir sekalipun untuk mengikuti sebuah organisasi. Maklum, di SMP aku tidak mengikuti organisasi apapun. Benar-benar SO banget, ya meskipun hasilnya tak begitu memukau. Kegiatanku cuma sekolah yang tiap harinya antar jemput (masih anak tunggal waktu itu) dan sorenya ngaji. Rajin banget yak!! Setidaknya aku selalu masuk 3 besar di kelas biasa dan 10 besar di kelas unggulan (paralel). Seingatku aku hanya mengikuti paduan suara. Itupun karena kelas unggulan makanya diikutkan paduan suara semua siswa sekelas. :D
             Masuk SMA tahun 2009. Baru itu aku mulai tertarik dengan kegiatan-kegiatan ekskul. Tahun pertama masih belum ikut apa-apa. Ya iya lah, tahun pertama dulu masih dituntut belajar rajin karena lagi-lagi masuk di kelas uggulan SMA di kecamatan. Alhamdulillah masih masuk 10 besar paralel. Tahun kedua saatnya pembalasan. Menyalurkan semua hobby dan energi lebih untuk kegiatan-kegiatan positif di sekolah. Sampai akhirnya ngaji sore pun sering ketinggalan dan bolos (hihi).
             Karier awal dimulai di ekskul hadrah jadi vokalis, kemudian dengan mudahnya masuk OSIS di divisi Teknologi Informasi, jadi anggota dewan kerja ambalan juga di pramuka gudep SMA (meskipun seringan nggak ikut kegiatan pembinaannya ke adek2), dan sekretaris di warga lab computer dengan mengikuti jejak sesosok yang istimewa hingga sekarang. Tapi organisasi di  SMA itu bagiku masih sangat kaku. Karena pemikiran kita masih diatur oleh guru. Masih belum bisa inisiatif sendiri gitu maksudku. 75% masih ada campur tangan pihak sekolah. Itu sih menurutku, mungkin temen-temen punya pendapat lain. tapi untuk ukuran seseorang yang punya sifat ramah, periang dan mudah bergaul kayak aku begini ya enjoy-enjoy aja sih punya banyak temen dan kenalan.
             Ternyata kebiasaan SMA itu kebawa di kampus sekarang. Di tahun pertama aku tidak mengikuti organisasi manapun selain hanya menjadi anggota dan ikut-ikut kegiatan kampus. Baru  tahun kedua aku ada 7 organisasi dengan posisi staff semua. Kini di tahun ketiga aku memegang 3 organisasi dengan posisi yang sangat menjanjikan untuk berpikirnya. Salah satu Ketua UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), sekdep dan wakabiro. Dari sekian perjalanan karierku di organisasi tentunya aku sudah belajar banyak hal terutama tentang managemen waktu, menghadapi masalah dan memahami karakter masing-masing orang yang sudah bekerja sama denganku.
             Di UKM, aku bertemu sosok yang karakternya bertabrakan banget sama aku. Kaku, nggak bisa diajak fleksibel. Sekali dia punya prinsip A maka selamanya dia akan seperti itu. Semua harus sesuai dengan apa yang ia inginkan. Koleris banget. Kalau tak begitu ya dia akan pergi. Kadang aku merasa lelah dengan semua tingkah itu. Tapi aku mencoba bertahan demi kebaikan bersama. Mungkin jika yang lalu lalu aku selalu dimengerti sekarang saatnya aku yang mengerti J. Begitu juga dengan yang di wakabiro dan sekdep. Semua punya cerita masing-masing yang tak bisa kuceritakan semua malam hari ini. yang jelas, Seru kok. Silakan mencoba! Tapi jangan lupa kewajibannya (sekolah) baru sunnahnya (kegiatan dan organisasi) J          
 


x

Selasa, 23 September 2014

Hati, si kecil yang sangat sensitif

Tahukah bahwa suasana hati sangat berpengaruh pada segala aktivitas yang kita lakukan? Atau mungkin kalian sudah merasakannya? sering kah??



Woo  woo.. jangan khawatir, anda tidak sendirian. Banyak orang guys yang sudah merasakannya (berdasarkan pengalaman dan cerita teman termasuk saya). Saat hati merasa damai, tenang, senang dan seterusnya ketika misalnya dapat hadiah, bertemu orang yang diidolakan/disukai/dirindukan, dapat nilai bagus, keinginan terwujud, serasa semua kegiatan adalah menyenangkan. Kita menjalankannya pun dengan sangat ikhlas dan tidak jarang pekerjaan atau kegiatan kita menuai hasil yang excellent, tidak hanya seperti yang kita bayangkan. Bagus banget dah pokoknya!! ^_^

Sekarang coba anda bandingkan dengan ketika suasana hati sedang berduka, sebel, marah. Duuh rasanya pingin makan semua orang yang menyapa kita, pingin tendang tuh dinding ruang sampek jebol. Semua yang ada di sekeliling kita rasanya menyiksa banget. Udah kerjaan nggak ada yang beres, semua berantakan dan efeknya kemana-mana nggak hanya di pekerjaan itu saja. Pinginnya kabur dari keadaan seperti itu. Nggak ada bagus-bagusnya soalnya tampang kita kalau lagi nggak enak hati.

Nahh.. kalau menurutku sih, menurut seseorang yang biasa-biasa saja ini, yang bukan konsultan kesehatan, bukan bidan bukan perawat bukan suster apalagi dokter, kalau kita lagi seneng banget atau lagi sebel banget, itu kita sedang dalam energi yang berlebih. Kalau lagi seneng mungkin energi yang keluar adalah energi positif. Jadi mau ngapain aja, mau ngerjain apa aja kebanyakan pasti beres. Sedangkan sebaliknya, kalau kita lagi sebel, marah atau sedih, kita juga punya energi yang berlebih tapi cenderung ke arah energi negatif. Ya bawaanya kayak pingin nendang-nendang dan makan orang tadi.

Nggak masalah kok, mau ngapain aja boleh. Asal jangan menembus hak-hak orang. Misalnya kalau sebel pinginnya cemberut aja, terus kalau disapa nggak mau senyum apalagi menjawab atau membalas menyapa. Padahal kan mendapatkan senyum dan perlakuan yang baik dari kita adalah hak orang. Atau kalau sedang badmood (istilah gaulnya) pinginnya semua orang menuruti apa yang kita mau. Harus sesuai dengan keinginan kita pokoknya! Woo woo.. anda melanggar undang-undang negara itu, Hak Asasi Manusia!! Atau kalau lagi sebel, suka nggak tertib lalu lintas ya. Nggak pakek helm, nrabas lampu merah, nggak patuh rambu-rambu di sepanjang jalan? (ya silakan dicoba aja sih) :D

Mending tiduran aja di kamar, nggak ganggu orang. Atau makan bakso aja yang banyak, kan lumayan tuh si tukang baksonya laris. Biar didoain badmood terus entar luh…!! Hahaha

Saran aja sih, kalau punya energi berlebih gitu buang aja ke kegiatan positif lainnya yang tidak bersinggungan dengan orang lain. Jadi tidak perlu cemas orang lain kena imbas dari kesebalan kita. Yaa misalnya bersih-bersih rumah, bakar sampah dll. Jadi teringat cerita salah satu senior yang kalau lagi marah atau sebel sukanya nyuci baju. Lumayan kan nggak perlu nglaundry. Bahkan katanya tidak terasa melelahkan. Hooo suangaar!! Tiba-tiba sudah selesai gitu aja. “kalau sebel lagi bisa buka laundry dadakan nih, mas!”

Next, kesimpulannya saling jaga perasaan aja lah sama orang-orang di sekeliling kita. Jangan suka membuat orang tersinggung. Dijaga kata-katanya terutama, “mulutmu, harimaumu”. Setidaknya kita berusaha berbuat baik kepada orang-orang di sekitar kita. Selebihnya wallahu a’lam J


Minggu, 21 September 2014

Dunia Ini Terlalu Adil : Sindiran Rakyat Kecil

[Jeritan Hati Petani]


- di sebuah ruang di lubuk hati - Dunia ini adil, bahkan terlalu adil. Hingga tuan dan nyonya bermobil semakin jaya dan kami semakin terabaikan. Gedung mencakar langit dan melebar, sedang lahan kami semakin menyempit kemudian hilang. Berubah menjadi tumpukan batu bata yang tersusun tinggi berpetak2 dengan barang mewah yang diperjualbelikan di dalamnya, atau warung besar dengan masakan yang menurut kami.. ah tak berasa, seperti tak berbumbu, atau ruangan-ruangan yang entah didalamnya terdapat apa. Yang jelas, deretan mobil mewah ada di atas tanah bekas sawah kami. Mereka seolah tak segan lagi menyingkirkan kami, kelompok yang dianggap tertinggal. Yang menyediakan sesuap nasi untuk semua orang di negeri ini. ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....


Bagaimana tidak kami melakukan semua itu, menjual satu-satunya tempat penyambung hidup kami sekeluarga. Bibit unggul tak lagi murah, pupuk dan obat-obat penyehat tanaman dari serangan hama tak mau kalah dengan si bibit unggul. semuanya mahal. Sedang perolehan kami tak begitu berharga. Tak sebanding dengan pengeluaran. Tak seberapa. Belum lagi kalau gagal panen melanda. hhhh.... Hutang tak lagi terelakan untuk menggarap lahan periode berikutnya. Dan entah sudah berapa periode kami tetap bertahan dengan semua ini. Dengan hutang yang semakin tahun bukan tambah berkurang tapi semakin beranak... ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....



Keadaan ini seperti buah simakalama, yang bahkan tak sedikit dari kami harus mengambil keputusan paling menyakitkan sepanjang umur kami, menjual sawah turun temurun dari sesepuh kami untuk menutupi hutang dan bekal hidup seterusnya. Pergi ke kota berharap kehidupan yang lebih baik di sana. dan.. tak sedikit dari mereka pula menganggap kami sampah masyarakat... ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....
  


Bagaimanapun, kehidupan kami di era orde baru memang tak ada bandingannya. Dan kalimat pak presiden "piye, sek enak jamanku to?" menurut kami benar, tak ada salahnya. Karena saat itu adalah masa kejayaan kami. Dimana kami merasa sangat diperhatikan dan diprioritaskan. Kebutuhan persawahan kami terjamin dan kami makmur. Biarlah orang di sana berkata apa. Sebagai orang awam yang tidak begitu memperhatikan masalah pribadi pemimpin dan saksi kejayaan kami, kami merasa sangat berharga di era itu. toh, sekarang mereka yang berteriak menuntut pemunduran sekarang tak berteriak untuk jeritan kami. hingga kami semakin terabaikan. ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....



Jika dulu, orang kaya terhitung dari berapa luas sawah yang dimiliki, rupanya sekarang sudah bergeser ke seberapa banyak gedung yang dimiliki... sesuap nasi dari jerih payah kamipun tak dihargai... sampai negarapun harus membeli sesuap nasi dari luar negeri. ohh negara ini sangat adil, dunia ini terlalu adil.....


Jumat, 19 September 2014

14 agustus menghanyut

Hina!
Ya.. itu yang bisa dirasakan saat ini, dan kupikir itu memang pantas untukku atas semua yang telah aku lakukan sebelumnya. Kini sudah tak ada yang perlu dirahasikan. Semua sudah terjadi dan semua sudah tau. Terus mau apa lagi ? mau memutar kembali waktu ? mau mengembalikan keadaan seindah seperti yang aku bayangkan saat ini ? hah.. mimpi, itu hanya angan yang tak kan pernah tersampaikan. Aku hanyalah seorang shofi.. seorang manusia pendosa yang sering sekali mengulangi kesalahannya. Seorang manusia yang lengah dan lalai di masa lalunya. Seorang manusia yang berusaha menjadi sholihah meski berulang kali terjatuh di lubang yang sama. Di tingkatan uji yang tak pernah meningkat dari sebelumnya. Hhh.. hina! Mungkin dengan ini Allah menyadarkanku. Dengan membuatku malu. malu pada Allah.. malu pada diriku sendiri.. malu pada orang di sekelilingku yang menganggapku lebih baik dari pada kenyataannya..

Inilah aku, yang tak bisa menyembunyikan perasaannya. Inilah aku, yang tak  bisa memendam kasih sayangku sendiri. Inilah aku, yang juga ingin merasa dikasihi. Inilah aku  yang tak bisa menepati janji-janji yang pernah kami buat bersama, ini lah aku yang memberikan harapan dan diberi harapan. inilah aku, dengan segala kekuranganku.

Dan inilah cinta yang tumbuh bukan pada waktunya. Cinta yang tumbuh dengan cepatnya diantara pertemuan singkat kami. Cinta yang tak pernah terbayang sebelumnya datang dan pergi begitu saja. Atau memang ini bukan cinta? Hanya bualan nafsu yang terbungkus rapi dengan kata-kata manis yang pernah terangkai darinya untukku dan dariku untuknya..

Entahlah..
14 agustus, kukira hari itu hari paling menyebalkan dalam hidupku. Hari dimana hubungan yang tak semestinya ini terjalin. Yang menyatukan aku dan dia dan semua yang pernah terjadi antara kami. Mengorbankan perasaan yang pernah terpupuk hanya dengan… ahh aku tak sanggup melanjutkannya. Ini karena aku merasa bodoh, aku merasa tak ada nilainya di matanya. Sehingga dengan mudah dia datang, pergi, kemudian kembali dengan sesukanya. Mengabaikan perasaan bulsyit yang berulang kali aku sampaikan. Semua hanya demi dia bahagia. Bahagia sesaat. Setelah itu dia akan berkata “ah lupakan, semua sudah terjadi”.

14 agustus, kupikir hari itu juga yang sangat dia jaga kerahasiaannya. Sampai melarangku untuk mengatakannya pada siapapun. Benar-benar menyembunyikannya. Itupun sebelum kami ada di posisi seperti ini. posisi yang seharusnya menjadi tauladan bukan cacian. Tapi sudah kubilang, inilah aku, dengan segala kekuranganku. Aku yang lebih tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku dengan apapun. Aku bahagia waktu itu bisa bersamanya. Jujur… entah dari sisi apa aku begitu menyukainya dulu.. dulu.. saat aku belum bertemu orang hebat lainnya. yaaaah meski terkadang saat inipun dia masih istimewa J meski dia tak pernah menyadarinya. Ku harap seperti ini saja, dia tak perlu tahu..


Kini.. semua orang sudah  tahu. Aku tak pernah berfikir sejauh itu. Tak pernah terfikir apa yang dirahasiakan kini terbongkar melalui lantunan kalimat-kalimat tak berharga, apa yang ditutup-tutupi kini terbuka melalui media yang tak diragukan lagi eksistensinya, apa yang disembunyikan kini terlihat sudah…. Dan dia masih dengan kalimatnya sendiri “ah lupakan, semua sudah terjadi”. Kemudian dia pergi……….membiarkan bayang-bayang gelap itu kembali menyeruak di ruang memoriku, membiarkanku sendiri dalam rindu palsu yang tak pernah kuharapkan….. (tak pernah kah dia berfikir tentang bagaimana posisiku)