LAPORAN KERJA PRAKTEK
PUSDIKLAT MIGAS CEPU
PUSDIKLAT MIGAS CEPU
PERIODE JUNI-JULI 2015
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
"ANALISA HASIL
SPESIFIKASI PERTASOL CC OFF SPECK
YANG DI-BLENDING PERTASOL CB DENGAN
KONSENTRASI TERTENTU
BAB
IV
METODOLOGI
4.1 Pelaksanaan
Proses Kerja Praktek Mahasiswa di Pusdiklat Migas Cepu
dilaksanakan dengan:
1.
Melaksanakan orientasi
umum pada unit-unit pelaksana teknis di Pusdiklat Migas Cepu.
2. Melaksanakan orientasi khusus di Laboratorium Kilang Minyak
Bumi dengan melakukan pengujian dan analisa terhadap produk-produk yang
dihasilkan khusunya Pertasol CC.
4.2 Tempat dan Waktu
Kerja Praktek
Mahasiswa dilakukan selama ± 1 bulan dari tanggal 1 Juli hingga 30 Juli 2015 di
Laboratorium Kilang Minyak Bumi Pusdiklat Migas Cepu.
4.3 MetodePercobaan
Metode yang digunakan untuk menguji karakteristik blending Pertasol CC dengan Pertasol CB yaitu
:
1. Density
2. Color
Saybolt
3.
Destilasi
4.
Bomb
Kalorimeter
5. Sulfur
Content
6. Doctor test
7. Aromatic
content
8. Copper
Strip Corrosion
9. Viskositas
4.4 Alat dan Bahan
4.4.1 Alat
a. Density
- Gelas ukur 500 ml
- Hydrometer
-
Thermometer
b. Color Saybolt
- ASTM D6045/D156
- Kuvet
-
Gelas Beker
c. Destilasi
- Gelas Ukur 100 ml
- Tabung Alas Bulat
- Thermometer
- Korek Api
-
Unit Destilasi
d. Bom Kalorimeter
- Kapsul dan jarum suntik
- Neraca
-
Satu set alat Bom
Kalorimeter
e. Sulfur Content
- Gelas Beker
- Plastik
-
Wadah untuk sampel
f. Doctor Test
- GelasUkur
-
Tabung reaksi
g. Aromatic Content
- Labu reaksi
-
Gelas ukur
h. Cooper Strip Corrosion
- Test tube
- Thermometer
- Pengatur suhu bath
- Bomb
- Bilah tembaga
- Kapas
-
Polishing material (silicon carbide grit paper)
i. Viskositas
- Satu set alat viskositas
- Pompa
- Stopwatch
4.4.2 Bahan
- PertasolCB
-
PertasolCC
-
Solar
-
Blending Pertasol
CC : Pertasol CB (250 : 250)
-
Blending Pertasol
CC : Pertasol CB (300 : 200)
-
Blending Pertasol
CC : Pertasol CB (350 : 150)
-
Air
-
H2SO4
-
Sulfur Powder
-
Doctor solution
- Asam asetat
4.5 Cara Kerja
a. Density
1)
Persiapkan sampel
(blending Pertasol CC dengan CB)
dengan cara mengaduknya terlebih dahulu dengan menggunakan magnetic bar.
2)
Tuang sampel ke dalam
gelas ukur 500 ml sebanyak 500 ml atau lebih.
3)
Ukur suhu sampel
dengan cara mengadukannya menggunakan thermometer
dan catat suhunya saat konstan.
4)
Masukkan hydrometer kedalam sampel, catat skala saat
sampel konstan.
b. Color Saybolt
1)
Ambil sampel (blendingan Pertasol CC dengan CB) dengan
gelas ukur.
2)
Cuci kuvet dengan
Pertasol CA dan nyalakan ASTM-nya dengan mengkalibrasikan kuvet ke dalamannya.
3)
Isi kuvet dengan
sampel, masukkan ke dalam tabung pembaca.
4)
Klik “read” pada alat, isikan nama dan id, lalu tekan enter”.
5)
Catat warna yang
dihasilkan dari alat.
c. Destilasi
1)
Persiapkan alat seperti:
thermometer, gelas ukur, labu alas
bulat, korek api, unit destilasi.
2)
Ambil sampel (blendingan Pertasol CC dengan CB)
sebanyak 100 ml dengan gelas ukur.
3)
Tuang sampel ke dalam
labu alas bulat.
4)
Pasang thermometer pada labu alas bulat dengan posisi
ujung thermometer sejajar dengan lubang.
5)
Pasang labu alas
bulat yang telah di set dengan thermometer
pada alat destilasi, usahakan terpasang rapat agar distilasi dapat berlangsung
dengan baik tanpa ada kebocoran.
6)
Letakkan gelas ukur
pada ujung kondensor.
7)
Hidupkan sumber pemanas.
8)
Atur pemanasan sesuai
dengan group sampel.
9)
Amati dan catat suhu
Initial Boiling Point (titik di dihawal),
suhu setiap destilat tertampung 10 ml dalam gelas ukur, sampai suhu Final
Boiling Point (titik didih akhir).
10)
Matikan sumber pemanas
dan biarkan alatdingin.
11)
Lepaskan labu
alas bulat dari alat destilasi, dan cuci labu alas bulat dengan menggunakan Pertasol
CA.
d. Bomb Kalorimeter
1)
Hidupkan Power Switch Calorimeter Water Recircultion dan
Printer.
2)
Tunggu ± 8 menit
sampai muncul main menu lalu pilih “Calorimeter
Operation”.
3)
Hidupkan heater pump dan buka oxygen gas, set pressure 450 Psi.
4)
Tunggu sampai jacket temperature stabil atau indicator
“start” menyala.
5)
Siapkan sampel dan
sampel cup lalu timbang sampel sebanyak
0,2 gram untuk sampel di atas 12000 btu/lb (maksimal 1 gram).
6)
Masukkan sample cup ke holder.
7)
Pasang 10 cm cotton thread di heating wire sampai menyentuh sampel.
8)
Masukkan oxygen bomb head kedalam oxygen bomb silinder.
9)
Tunggu indicator
“start” menyala.
10)
Pilih“start”untuk memulai tes sampel.
11)
Pilih “continued”, pilih “no” untuk memasukkan sampel id manual atau pilih “yes” untuk memasukkan sampel id automatic.
12)
Pilih “enter” untuk memasukkan bomb id.
13)
Masukkan berat sampel
lalu tekan “enter”.
14)
Tes sampel sudah
di mulai, tunggu sampai ± 15 menit.
15)
Pilih “done” untuk menyimpan hasil tes atau pilih
“print” untuk cetak hasil sampel.
16)
Buka oxygen bomb head dari oxygen bomb silinder.
17)
Ambil sample cup dari holder.
18)
Bersihkan oxygen bomb head sampai bersih dan kering.
19)
Pilih heater pump lalu pilih off untuk mematikan.
20)
Tekan “switch of bomb calorimeter, water
recirculation dan printer untuk mematikan.
21)
Tutup valve tabung gas posisi nol.
e. Sulfur Content
1)
Siapkan sampel
yang akan diuji.
2)
Siapkan kertas
yang lumayan tebal yang sudah dibentuk seperti tempatnya, kemudian lapisi dengan
plastic film.
3)
Masukkan sampel ke
dalam kertas film sampai kira-kira melapisi plastic
film-nya.
4)
Tutup dengan plastic film kembali dan tutup dengan kertas
yang lumayan tebal lagi.
5)
Masukkan ke dalam
alat.
6)
Tunggu hasilnya keluar.
f. Doctor Test
1)
Ambil sampel (blendingan Pertasol CC dengan CB)
sebanyak 10 ml.
2)
Tambahkan doctor solution ke dalam tabung reaksi yang berisi sampel sebanyak 5 ml.
3)
Tambahkan sedikit
serbuk belerang dengan menggunakan spatula.
4)
Kocok larutan selama
15 detik.
5)
Amati perubahan
yang terjadi pada interface kedua larutan. Apabila timbul warna coklat atau hitam,
menandakan sampel mengandung H2S, dan laporkan uji Doctor “Positif”. Apabila tidak terjai
makan lanjutkan dengan penambahan sedikit serbuk belerang dan kocok selama 15
menit.
6)
Biarkan selama1 menit dan amati perubahan yang terjadi pada interface dan serbuk belerang. Apabila timbul
warna coklat, menandakan sampel mengandung merkaptan, dan laporkan uji Doctor “positif”. Apabila tidak terjadi perubahan
warna coklat maka laporkan uji Doctor
“negatif”.
g. Aromatic Content (Metode Shell)
1)
Ambil sampel (blendingan Pertasol CC dengan CB)
sebanyak 75 ml dan H2SO4 sebanyak 25 ml.
2)
Tuangkan ke dalam
corong pisah, kocok sampai dengan homogeny
selama 25 menit dan buka kran sedikit untuk mengurangi tekanan gas yang ada
di dalam.
3)
Setelah homogen, diamkan corong pisah di
penyangga.
4)
Pisahkan lapisan
H2SO4 dari lapisan minyaknya.
5) hitung volume penambahan H2SO4 dalam
gelas ukur.
h. Cooper Strip
Corrosion
1)
Persiapkan alat-alat
diantaranya :test tube, thermometer, pengatur suhu bath, bomb, bilah tembaga, kertas saring, kapas, polishing material (silicon carbide grit paper).
2)
Persiapkan pelarut
isooktana.
3)
Bersihkan seluruh
sisi bilah tembaga dengan cara menggosokkannya dengan polishing
material. Setelah bersih (jangan sampai terpegang tangan) masukkan kedalam isooktana.
4)
Tuangkan sampel
(blendingan Pertasol CC dengan CB) ke
dalam tabung reaksi dan masukkan ke dalam
test tube.
5)
Keringkan bilah tembaga dengan kertas saring dan masukkan ke dalam
test tube yang berisi sampel.
6)
Panaskan test tube yang berisi sampel dengan ketentuan (solvent), tutup test tube dengan gabus yang
berisi ventilasi (lubang) panaskan dalam bath pada suhu 100 ± 1 °C (212 ± 2 °F) selama 3 jam.
7)
Setelah proses
pemanasan selesai, kosongkan test tube dari
sampel, ambil bilah tembaga, celupkan ke dalam pelarut isooktana dan keringkan dengan
tisu.
8)
Bandingkan pengkaratan yang terjadi pada bilah tembaga dengan
bilah tembaga standart, catat skala bilah
tembaga standart sebagai cooper strip corrosion sampel.
i. Viskositas
1)
Nyalakan alat viskositas
dengan cara menekan tombol start.
2)
Tunggu hingga suhu
alat mencapai 36 °C
3)
Bersihkan dan cuci
tabung reaksi dengan menggunakan Pertasol CA.
4)
Isi tabung dengan
sampel (blendingan Pertasol CC dengan Pertasol CB) ke dalam tabung reaksi hingga terisi
tabung terisi sampel diantara tanda merah pada tabung reaksi.
5)
Masukkan tabung reaksi
yang berisi sampel ke dalam silinder (alat viskositas).
6)
Tunggu hingga ±
5 menit.
7)
Masukkan selang pompa
pada salah satu lubang tabung reaksi dan tutup lubang yang lain dengan menggunakan
tangan.
8)
Nyalakan pompa hingga
cairan sampel naik ke atas melewati batas
merah bagian atas pada tabung reaksi.
9)
Buka seluruh lubang
tabung reaksi baik yang tertutup dengan tangan maupun yang terhubung dengan selang
pompa jika cairan sudah naik melewati batas merah bagian atas tabung
reaksi.
10) Tunggu hingga cairan kembali turun.
11) Tekan start pada
stopwatch bila cairan turun tepat mengenai
batas merah bagian atas pada tabung reaksi.
12) Tekan stop pada
stopwatch jika cairan sampel tepat mengenai
batas merah bagian bawah pada tabung reaksi.
13) Catat waktu pada stopwatch.
14) Lakukan langkah-langkah di atas hingga tiga kali.
15) Hitung rata-rata waktu yang digunakan cairan sampel dari
batas atas menuju batas bawah pada tabungreaksi.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisa Data
Dari
pengujian Pertasol CC yang off speck
dengan diblending
Pertasol CB yang telah dilakukan diperoleh data
sebagai berikut:
Tabel 5.1Hasil
Pengujian
|
No.
|
Parameter Uji
|
Pertasol CC on speck
|
Pertasol CC off speck
|
Pertasol CB
|
Pertasol CC off speck : Pertasol CB
|
||
|
250:250
|
300:200
|
350:150
|
|||||
|
1.
|
Density/
Temperature
|
|
771 kg/m3
/32°C
|
765 kg/m3
/31°C
|
765 kg/m3
/32°C
|
770 kg/m3
/32°C
|
771 kg/m3
/32°C
|
|
Density 15°C,
kg/m3
|
782-796
|
783,5
|
776,9
|
777,6
|
782,5
|
783,5
|
|
|
2.
|
Color saybolt
|
+16
|
14
|
22
|
13
|
16
|
14
|
|
3.
|
Destilasi
|
|
|
|
|
|
|
|
IBP
|
124
|
107
|
90
|
105
|
120
|
110
|
|
|
5 ml
|
|
120
|
121
|
121
|
118
|
||
|
10 ml
|
|
124
|
107
|
127
|
123
|
123
|
|
|
20 ml
|
|
130
|
113
|
135
|
137
|
130
|
|
|
30 ml
|
|
138
|
120
|
140
|
139
|
139
|
|
|
40 ml
|
|
145
|
126
|
147
|
141
|
147
|
|
|
50 ml
|
|
154
|
132
|
152
|
150
|
158
|
|
|
60 ml
|
|
163
|
140
|
160
|
158
|
165
|
|
|
70 ml
|
|
176
|
150
|
172
|
169
|
176
|
|
|
80 ml
|
|
190
|
163
|
180
|
181
|
190
|
|
|
90 ml
|
|
220
|
182
|
208
|
210
|
220
|
|
|
EndPoint (FBP)
|
250
|
270
|
204
|
239
|
258
|
260
|
|
|
4.
|
Bomb
Kalorimeter, MJ/kg
|
|
21,1721
|
19,7115
|
37,1671
|
18,8972
|
31,8480
|
|
5.
|
Sulfur Content, %m/m
|
|
0,01048
|
0,004447
|
0,00623
|
0,00365
|
0,00414
|
|
6.
|
Doctor Test
|
Negatif (-)
|
Negatif
(-)
|
Negatif
(-)
|
Negatif
(-)
|
Negatif
(-)
|
Negatif
(-)
|
|
7.
|
Aromatic Content
|
25
|
8
|
16
|
8
|
8
|
8
|
|
8.
|
Copper Strip Corrosion
|
|
2c
|
1b
|
2c
|
1b
|
3a
|
|
9.
|
Viskositas
|
|
0,9338
|
0,8517
|
0,918
|
0,9065
|
0,9308
|
5.2 Pembahasan
Dari
percobaan dalam kerja praktek ini diambil studi kasus untuk Pertasol CC yang off speck akibat adanya fraksi solar
yang ikut naik pada saat proses destilasi sehingga ada komponen dari minyak Pertasol
CC tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Maka dari
itu untuk memperoleh bahan Pertasol CC yang off
speck tersebut dilakukan pencampuran Pertasol CC 1000 ml yang memenuhi
spesifikasi dengan solar 20 ml sehingga diperoleh spesifikasi Pertasol CC yang off speck seperti yang tercantum pada tabel
5.1.
Dalam
pengujian yang telah dilakukan diunakan beberapa alat uji untuk mengetahui
spesifikasi dari Pertasol CC
off speck
yang akan dilakukan perbaikan dengan cara di-blending
dengan Pertasol CB. Pemilihan bahan campuran berupa Pertasol CB dikarenakan Pertasol
CB mempunyai warna yang tinggi sehingga dapat memperbaiki warna dari Pertasol CC
off speck. Berikut penjelasan dari
setiap pengujian yang telah dilakukan:
a.
Density
Pengujian density merupakan pengujian yang
dilakukan untuk mengukur berat jenis minyak bila volumenya sudah diketahui.
Dalam pengujian ini digunakan gelas ukur 500 ml, termometer, dan hidrometer. Pengukuran ini digunakan
prinsip hukum Archimedes.
Dari pengukuran ini diperoleh data berupa berat jenis dari minyak saat
temperatur tertentu. Data temperatur dan densitas minyak tersebut dapat
digunakan dalam menyesuaikan spesifikasi dari minyak yang diterima oleh
konsumen minyak. Dalam pengujian ini dilakukan pengujian densitas untuk Pertasol
CC off speck yang di-blending dengan beberapa perbandingan Pertasol
CB. Perbandingan blending yang
dilakukan antara Pertasol CC off speck
dengan Pertasol CB yaitu 250:250, 300:200, dan 350:150. Perbandingan ini
dilakukan dengan acuan pada penelitian sebelumnya mengenai “Karakterisasi Pertasol
CB Apabila Di-blending dengan Pertasol
CC dengan Rasio Perbandingan Tertentu di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak
dan Gas Bumi (PUSDIKLAT MIGAS)”. Setelah diketahui hasil pengukuran maka harus
disesuaikan dengan tabel spesifikasi yang digunakan standar temperatur 15°C
karena pada temperatur tersebut minyak mempunyai volume yang sekecil-kecilnya
dan berat maksimal.
Dari hasil pengujian densitas diperoleh
hasil densitas yang sesuai dengan spesifikasi Pertasol CC yang diterima
konsumen yaitu perbandingan 300
: 200 dan 350 : 150 dengan hasil
densitas 770 kg/m3 pada temperatur 32 °C dan 771 kg/m3
pada temperatur 32 °C sehingga sesuai dengan
tabel spesifikasi Pertasol CC diperoleh densitas 782,5 kg/m3dan
783,5 kg/m3. Sedangkan
untuk perbandingan 250 : 250 tidak memenuhi
spesifikasi untuk Pertasol CC karena memiliki densitas yang lebih kecil dari batas
minimal spesifikasi densitasPertasol CC. Pengujian densitas ini dilakukan agar
diketahui kemampuan minyak tersebut untuk melakukan penguapan. Maka dari itu
ada batas densitas yang dicantumkan dalam spesifikasi suatu minyak. Ketika
tidak diketahui densitas dari minyak tersebut, maka dapat terjadi penguapan
yang tidak diketahui yang juga akan mengakibatkan kerugian untuk produksi
minyak tersebut
b. Color Saybolt
Pengujian
Color Saybolt
digunakan untuk mengetahui tingkat warna dari minyak yang diuji. Alat ini
menggunakan prinsip spektrometer. Sampel pada alat ini akan dikenai cahaya
sehingga akan terdeketeksi pada tingkat warna atau spektrum berapa sampel tersebut.
Dalam pengujian ini dilakukan 5 pengujian untuk sampel yang berbeda dengan
hasil yang telah tercantum pada tabel 5.1. Dari tabel tersebut dapat dilihat
bahwa spesifikasi warna yang sesuai dengan spesifikasi Pertasol CC adalah untuk
hasil blending 300:200 dengan
hasil color
saybolt
16. Dalam hal ini dapat terjadi karena warna Pertasol CC yang off speck dengan warna 14 di-blending
dengan Pertasol CB yang memiliki warna 22 dengan perbandingan 300 : 200 memberikan efek
yang berpengaruh untuk warna Pertasol CC. Sehingga dengan perbandingan 300 Pertasol
CC off speck dan 200 Pertasol CB
dengan warna 22 inilah yang tepat untuk perbaikan Pertasol CC yang off speck dengan warna 14 agar dapat
memenuhi spesifikasi Pertasol CC.
c. Destilasi
Destilasi merupakan proses fisika dan tidak terjadi
adanya reaksi kimia selama proses berlangsung. Prinsip dasar pemisahan dengan
cara destilasi adalah perbedaan titik didih cairan pada tekanan tertentu.
Proses destilasi melibatkan suatu penguapan campuran dan diikuti dengan proses
pendinginan dan pengembunan. Pengamatan yang dilakukan pada proses ini meliputi
IBP (Initial Boiling Point), FBP (Final Boiling Point), dan suhu pada
setiap 10 ml penambahan volume embun.
IBP adalah suhu dari tetesan pertama cairan yang destilasi pada tabung
kondensor. Sedangkan FBP adalah suhu dari tetesan terakhir cairan yang telah
didestilasi pada tabung kondensor. FBP ini diperoleh bila semua cairan pada
labu destilasi yaitu fraksi ringannya telah menguap. Semakin banyak fraksi
ringan yang ditambahkan, maka harga IBP juga akan semakin menurun, sedangkan
harga FBP tetap. Hal ini dikarenakan
fraksi ringan akan mudah menguap dibandingkan dengan fraksi berat. Fraksi
ringan menguap terlebih dahulu sedangkan fraksi yang lebih berat akan
tertinggal.
Pada proses destilasi ini, sampel yang digunakan
diantaranya Pertasol CC off speck (Pertasol
yang telah dicampur dengan solar), Pertasol CB yang akan di-blending dengan Pertasol CC, serta blending-an Pertasol CC dan CB dengan
volume perbandingan 250 : 250, 300 : 200, 350 : 150. Volume masing-masing yang
digunakan untuk proses destilasi sebanyak 100 ml. Setelah dilakukan proses
destilasi sesuai metodologi maka diperoleh data suhu dan volume destilat dari
masing-masing sampel yang dapat dilihat pada tabel 5.1.
Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa IBP dari
sampel yang diguanakan yaitu Pertasol CC off
speck, Pertasol CB, serta blending-an
Pertasol CC dan CB dengan perbandingan
250 : 250, 300 : 200, 350 : 150 yaitu 107°C, 90°C, 105°C, 120°C dan
110°C. Dari data tersebut terlihat bahwa IBP Pertasol CC yang dibuat off speck dengan solar tidak memenuhi
spesifikasi Pertasol CC yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Migas yaitu
124°C. Begitu juga dengan sampel yang lain karena tidak ada yang mencapai
124°C. Namun bila diperhatikan, dari hasil percobaan yang telah dilakukan
terlihat bahwa sampel Pertasol CC yang dibuat off speck dengan solar dapat diperbaiki atau ditingkatkan harga
IBP-nya setelah di-blending Pertasol CB
dengan volume perbandingan 300 : 200. Harga IBP Pertasol CC yang di-blending dengan volume perbandingan 300
: 200 adalah 120°C. Nilai IBP dari sampel ini hampir mendekati nilai IBP Pertasol
CC yang ditetapkan oleh pertamina dibandingkan dengan nilai IBP sampel yang
lain.
Selain nilai IBP, pada proses destilasi ini yang perlu
diperhatikan adalah nilai FBP (Final
Boiling Point). Nilai FBP dari sampel yang digunakan diantaranya Pertasol CC
off speck, Pertasol CB, serta blendingan Pertasol CC dan CB dengan
perbandingan 250 : 250, 300 : 200, 350 :
150 yaitu 270°C, 204°C, 239°C, 258°C dan 260°C. Sedangkan nilai FBP Pertasol CC
yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Migas adalah 250°C. Dari percobaan
yang telah dilakukan, nilai FBP dari semua sampel yang digunakan tidak ada yang
memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Namun sesuai dengan tujuan percobaan ini,
nilai FBP dari Pertasol CC yang off speck
yaitu 270°C dapat diperbaiki hingga mendekati spesifikasi menjadi 258°C setelah
di-blending Pertasol CB dengan volume
perbandingan 300 : 200. Nilai FBP pada sampel ini lebih mendekati spesifikasi Pertasol
CC yang ditetapkan dibandingkan dengan sampel blending-an lainnya.
Dari hasil analisa di atas, maka dapat diketahui bahwa
pada proses destilasi Pertasol CC dapat diperbaiki hingga hampir mendekati
spesifikasi yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Migas apabila di-blending Pertasol CB dengan volume
perbandingan 300 : 200. Proses destilasi ini sangat penting dilakukan untuk
mengetahui sifat penguapan dari bahan bakar. Sifat penguapan mempengaruhi daya
kerja bahan bakar terutama untuk mesin putaran tinggi dan sedang. Jika terlalu
rendah penguapan dapat mengakibatkan pembakaran tidak sempurna dan fase cairan
yang disemprotkan ke dalam mesin semakin berkurang.
d.
Bomb
Kalorimeter
Bomb kalorimeter adalah alat yang digunakan
untuk mengukur jumlah kalor (nilai kalori) yangdibebaskan pada pembakaran
sempurna (dalam O2 berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, dan bahanbakar.
Sejumlah sampel ditempatkan pada tabung beroksigen yang tercelup dalam medium
penyerap kalor (kalorimeter) dan sampel akan terbakar oleh api listrik dari
kawat logam terpasang dalam tabung. Pada pengujian Pertasol CC ini sampel
ditempatkan dalam sebuah kapsul kecil agar proses pembakarannya lebih lama
karena jika ditempatkan langsung dalam cup
maka waktu berlangsungnya pembakaran akan semakin cepat sehingga alat bomb
kalorimeter belum bisa mengambil data untuk jumlah kalor yang dibebaskan.
Pengujian bomb kalorimeter ini dilakukan agar dapat
mengetahui kuantitas panas yang diperlukan untuk menentukan
suhu 1 gram air dalam 1 skala derajat C (Celcius) atau K (Kelvin) sehingga jika telah diketahui kuantitas
kalor yang diperlukan maka dapat
diketahui proses perubahan energi dalam bentuk kalor tersebut. Dalam
pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil kalori seperti yang tertera
dalam tabel 5.1 nomor 4.
e. Sulfur
Content
Pengujian sulfur content
ini digunakan alat WDXRF
Sulfur Analyzer
yang digunakan untuk mengetahui kandungan sulfur
pada suatu cairan ataupun padatan. Dalam penujian ini digunakan sampel berupa
cairan yaitu Pertasol CC. Prinsip dari alat ini yaitu dengan prinsip XRF yang
memanfaatkan berkas sinar X untuk menembak pada sampel. Sehingga dari hasil
tumbukan sinar X pada sampel tersebut akan dihasilkan sinar yang dapat
memberikan informasi mengenai kandungan sulfur
khususnya dalam hal ini.
Dalam pengujian ini diperoleh data
kandungan sulfur pada masing-masing
sampel yang diuji yaitu seperti yang tercantum dalam tabel 5.1 nomor 5. Dari
tabel dapat terlihat bahwa kandungan sulfur
yang paling rendah yaitu hasil blending
300:200 yaitu 0,00365 %m/m yang menunjukkan kadungan sulfur yang ada pada hasil Pertasol CC perbaikan tersebut sedikit
sehingga memperkecil peluang untuk terjadinya korosi pada mesin atau benda yang
terkena Pertasol CC perbaikan tersebut.
f. Doctor
Test
Doctor test merupakan uji kandungan sulfur dalam sampel. Pada penelitian ini doctor test digunakan untuk mengatahui kandungan sulfur yang berada pada Pertasol CC, Pertasol
CB dan blending Pertasol
CC dengan Pertasol CB. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan doctor
solution
yang digunakan sebagai pelarut untuk mengetahui kandungan sulfur. Langkah pada penelitian ini adalah dengan melarutkan sampel
pada doctor solution dan ditambahkan sulfur
powder secukupnya kemudian dikocok selama 15 detik dan diamkan selama satu
menit. Setelah satu menit, dilihat perubahan warna pada sulfur powder tersebut. Warna hitam dan coklat menyatakan positif
mengandung sulfur dalam sampel,
sedangkan apabila warna tidak berubah maka menyatakan negatif mengandung sulfur.
Pengaruh sulfur
pada minyak bumi dapat menyebabkan minyak tersebut bersifat asam. Sifat asam
pada minyak sendiri menyebabkan mudahnya terjadi proses korosi. Berdasarkan
data pada tabel 5.1 di atas menyatakan bahwa hasil uji doctor test adalah negatif. Hal ini berarti bahwa Pertasol
yang berada di Pusdiklat Migas Cepu telah memenuhi spesifikasi yang telah
ditetapkan seperti pada tabel 3.3. hal ini disebabkan pada proses pengolahan
sendiri terdapat proses Treating. Treating merupakan proses
pemurnian minyak bumi dengan cara menghilangkan pengotor-pengotornya.
g. Aromatic
Content
Setiap senyawa kimia
yang berisi hidrogen dan karbon, beberapa hidrokarbon kemungkinan mengandung
pengotor. Pengotor ini yang menyebabkan adanya bau khas. Sehingga pengujian aromatic
content
ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat karbon aromatic yang akan terlarut dalam asam
sulfat (H2SO4). Terlarutnya karbon aromatic pada asam sulfat dapat dilihat dari penambahan volume asam
sulfat (H2SO4)
dalam penelitian ini digunakan asam sulfat (H2SO4) dikarenakan
H2SO4 sebagai pemutus ikatan rangkap menjadi tunggal pada
sampel. Pegujian ini dilakukan dengan cara mencampurkan sampel kedalam larutan
H2SO4, kemudian dikocok selama 15 menit dengan tujuan
agar sampel terdistribusi secara optimal ke dalam H2SO4.
Pada saat pengocokan, lubang di buka secara berkala hal ini dilakukan agar
tekanan yang berada dalam corong pemisah tidak terlalu besar. Setelah itu
larutan hasil ekstraksi tersebut dituang ke dalam gelas ukur dan dihitung
pertambahan volume H2SO4.
Berdasarkan pada tabel
5.1 di atas, dapat diketahui bahwa pada Pertasol CC yang telah dioff speck spesifikasinya dengan solar
memiliki pertambahan volume H2SO4 sebesar 2 ml sehingga
jika dipersentasikan sebesar 8%. Sedangkan untuk Pertasol CB memiliki pertambahan
volume H2SO4 sebesar 4 ml atau 16 %. Adapun untuk hasil blending antara Pertasol CC yang telah off speck dengan pertaasolCB dengan
perbandingan sebagai berikut 250 ml : 250 ml, 300 ml : 200 ml dan 350 ml : 150
ml memiliki pertambahan volume H2SO4 secara berurutan
sebagai berikut 2 ml, 2 ml dan 2 ml. Dengan persentase sebesar 8%, 8% dan 8%.
Jika dilihat dari persentase aromatic content-nya Pertasol CC yang dibuat off speck, Pertasol CB, blending Pertasol
CC dengan Pertasol CB tersebut masih berada pada spesifikasi yang ditetapkan
oleh Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi, dimana prosentase aromatic
content
maksimal adalah 25% v/v.
h. Copper Strip Corrosion
Cooper
strip corrosion merupakan salah
satu proses analisis karakteristik yang bertujuan untuk mengetahui tingkat
korosifitas dari produk minyak bumi. Sifat korotifitas tidak berkaitan langsung
dengan kandungan jumlah sulfur. Sifat
korosifitas sulfur bergantung pada
jenis senyawanya, namun pada umumnya minyak bumi yang mengandung sulfur sudah dihilangkan selama proses pengolahan. Pada analisis
ini, yang dilakukan adalah mengecek warna korosifitas dari cooper strip dengan cara membandingkannya dengan tabel klasifikasi
bilah tembaga. Setelah dilakukan percobaan sesuai metodologi, maka diperoleh
data hasil cooper strip pada
masing-masing sampel sesuai yang ditunjukkan pada tabel 5.1.
Berdasarkan hasil percobaan pada tabel 5.1, dapat kita
ketahui bahwa nilai cooper strip dari sampel yang meliputi Pertasol CC (yang telah dioff speck dengan solar), Pertasol CB, serta blendingan Pertasol CC dan
CB dengan volume perbandingan 250 : 250, 300 : 200 dan 350 : 150 yaitu 2C, 1B,
2C, 1B dan 3A. Spesifikasi nilai cooper
strip corrosion yang ditetapkan oleh Dirjen Migas adalah 1. Jika melebihi
golongan 1 maka produk tersebut bersifat korosif terhadap logam dan tidak layak
untuk digunakan. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa
sampel yang masih memenuhi spesifikasi adalah sampel Pertasol CB serta sampel blendingan Pertasol CC dan Pertasol CB
dengan volume perbandingan 300 : 200 yaitu berada pada golongan 1b. Cooper strip golongan 1b dalam tabel
menunjukkan warna orange gelap , yang
berarti tidak telalu korosif dan layak untuk digunakan.
Berdasarkan hasil analisa di atas, maka dapat
diketahui bahwa dari proses cooper strip
corrosion Pertasol CC (yang dibuat off
speck dengan solar) dapat diperbaiki dari golongan 2C menjadi 1B setelah di-blending Pertasol CB dengan volume
perbandingan 300 : 200. Sehingga Pertasol CC yang awalnya tidak layak digunakan
menjadi layak digunakan serta telah memenuhi spesifikasi dari Dirjen Migas.
i. Viskositas
Viskositas adalah
tingkat kekentalan suatu fluida. Tujuan dari pengukuran viskositas ini adalah
untuk mengetahui tingkat kekentalan beberapa sampel uji yang di-blending dengan perbandingan tertentu
sehingga akan memenuhi spesifikasi suatu produk.
Metode pengujian ini
adalah dengan menggunakan alat pengukur viskositas secara kinematik. Alat dan
bahan yang digunakan berupa viscositas tube, pompa, pipa kapiler, stopwatch, thermometer, dan sampel yang diuji. Pada pipa kapiler
ini memiliki 3 cabang, untuk cabang yang terbesar terdapat 2 garis yang
digunakan sebagai penentu jumlah sampel yang diukur. Untuk 2 garis lain pada
pipa kapiler yang lebih kecil digunakan sebagai analisa kinematik, yaitu dengan
mengukur waktu yang diperlukan untuk melalui 2 garis tersebut.
Cara melakukan
percobaan ini adalah dengan memanaskan viscositas tube selama 30 menit. Kemudian suhu minyak pada viscositas
tube dilihat
melalui thermometer, jika suhunya sudah mencapai 100 °F
(37.8
°C), maka sampel yang
telah dimasukkan pada pipa kapiler dengan jumlah tertentu dimasukkan ke dalam viscositas
tube
dan didiamkan sesaat sampai suhu termal tercapai. Pada percobaan ini, suhu yang
terukur pada thermometer adalah 35.5 °C.
setelah pipa kapiler dimasukkan ke dalam viskositas
tube dan didiamkan semala beberapa saat, kemudian sampel disedot dengan
menggunakan pompa yang dihubungkan dengan pipa kapiler dan dengan menutup 2
buah pipa lainnya. Jika sampel sudah berada di atas garis batas atas, maka
pompa dimatikan. Kemudian fluida mengalir ke bawah akibat tarikan gravitasi
bumi. Waktu yang diperlukan untuk melewati 2 garis batas diukur dengan
menggunakan stopwatch dan
didapatkan data berupa waktu. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali untuk
tiap-tiap sampel uji dan didapatkan data seperti yang tercantum dalam tabel
5.1. Rata-rata waktu yang diperlukan oleh tiap-tiap sampel uji hampir sama
yaitu pada rentang 3-4 menit. Kemudian nilai rata-rata yang dihasilkan dikalikan
dengan faktor koreksi (0.00500) dan dihasilkan nilai viskositas sampel. Dari
percobaan yang telah dilakukan sampel uji yang memenuhi spesifikasi Pertasol CB
adalah sampel uji dengan perbandingan Pertasol CC dengan Pertasol CC off
speck adalah perbandingan 300 : 200.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar